Ekonomi Digital, Kolaboratif dan Berbagi, Lebih Ramah Lingkungankah?

Menelaah kebutuhan manusia dalam bersosialisasi adalah hal yang menarik. Salah satu bentuk kepedulian sosial yakni dengan berbagi dan ini sudah dilakukan sejak dahulu kala. Kini sistem berbagi yang lebih masif masuk dalam kegiatan perekonomian yang dibungkus dengan kemajuan digital yang canggih. Dengan ekonomi berbagi ini, mulai dari informasi sampai dengan sumber daya, kita dapat membantu meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat. Kombinasi dahsyat antara ekonomi berbagi dan dunia digital kini merevolusi model bisnis banyak perusahaan di dunia. Perusahaan menjadi semakin humanis dan ramah konsumen. Selain itu masyarakat menjadi termotivasi untuk menjadi sadar akan tanggung jawabnya terhadap lingkungan. Tak salah rasanya jika kita sebut bahwa sharing economy membawa dampak lingkungan yang lebih baik, mengingat banyak underutilized resource yang digunakan secara bersama-sama seperti kendaraan, penginapan, sampai pada makanan. Tak ada barang-barang yang menganggur dengan percuma.

Coba kita tengok aplikasi Gojek dan Grab. Dulu, ketika belum ada aplikasi ini, ketika tidak sedang terburu-buru, saya lebih memilih naik taksi daripada ojek karena ojek pangkalan seringkali tidak ramah di kantong bahkan cenderung lebih mahal dari taksi untuk rute yang sama. Belum lagi harus tawar-menawar. Dengan naik taksi, berarti saya mendapatkan fasilitas kenyamanan seperti AC, tentunya hal ini berimbas pada konsumsi BBM yang lebih boros daripada ojek, sekalipun taksi tersebut tidak memakai AC akan tetap lebih boros. Belum lagi risiko macet yang akan dihadapi mobil lebih besar daripada motor karena mobil tidak bisa bermanuver menghindari macet seperti halnya motor. Dengan adanya aplikasi ojek ini, bermodal smartphone sederhana, saya dapat melihat tarif, estimasi waktu dan jarak tempuh meskipun saya belum memesan. Macet atau tidak tarif tetap flat. Dalam teori ekonomi jual beli, ini fair, karena penjual dan pembeli sama-sama mengetahui kondisi barang dan harganya sebelum transaksi terjadi. Jika kurang berkenan dengan tarif, maka anda pun bebas untuk mencari jasa aplikasi ojek lainnya. Apabila barang bawaan anda tidak memungkinkan untuk naik ojek, maka anda masih bisa memesan Grabcar atau Uber, sekali lagi dengan tarif flat, macet atau tidak tetap sama.

Pun sama halnya dengan Go-Food, memesan 5 paket makanan via ojek aplikasi jauh lebih efisien ketimbang menggunakan satu mobil kemudian beramai-ramai mengunjungi restonya. Memang bukan hal baru karena sudah lama tersedia delivery service, namun euforianya tidaklah sebanyak sekarang. Selain itu tidak semua resto mempunyai jasa delivery. Hitung saja ada berapa para driver ojek aplikasi ini berlalu lalang mengantarkan makanan pada jam istirahat. Berapa bahan bakar yang terbuang manakala harus kita sendiri yang datang ke resto.

Masyarakat sekarang juga jauh lebih baik dalam hal mengapresiasi industri lokal dan karyanya. Juga dalam hal memilih makanan, tren terkini cenderung untuk memilih makanan dan sumber makanan yang organik dan menyehatkan, alih-alih memilih makanan fastfood. Hasil pertanian yang organik tidak menggunakan pestisida, dan pupuknya pun alami, bisa kompos maupun pupuk kandang hasil limbah peternakan.

Di USA, sebuah studi menarik terhadap Airbnb yang dikemukakan oleh Cleantech group, yakni para tamu yang menginap di rumah berbagi mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebanding dengan 33.000 mobil dan mampu menghemat air sebanyak 270 kali kolam renang Olimpiade dalam kurun waktu satu tahun. Para tamu tersebut mampu menggunakan CO2 lebih sedikit 66% dibandingkan dengan memakai hotel, sekalipun hotel tersebut sudah meraih akreditasi bintang lima dalam hal efisiensi. Mengapa? Ini disebabkan karena hotel banyak menggunakan air untuk keperluan gardening, mencuci, laundry pakaian dan memasak, termasuk juga dalam hal pemakaian listrik, sementara kebutuhan rumah berbagi akan sumber daya alam dan energi tidaklah sampai sebanyak itu.

Para pemilik rumah berbagi ini semakin banyak yang menggunakan perangkat pintar hemat energi, sehingga mereka tidak membuang-buang sumber daya energi yang tidak perlu. Teknologi terkini yang dibenamkan dalam peralatan rumah tangga sudah mampu mendeteksi, kapan waktu yang tepat untuk mengonsumsi energi, kapan harus meminimalisir. Secara jangka panjang profit meningkat karena sumber daya energi dapat dihemat secara cermat.

Zipcar, salah satu perusahaan berbagi mobil terkemuka di USA, juga turut andil dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Zipcar menyatakan bahwa rata-rata setiap satu unit mobil berbagi mereka, berhasil menarik 20 pelanggan dimana mereka juga mempunyai mobil pribadi sendiri. Transportation Sustainability Research memperkirakan ada sekitar 20% para member Zipcar yang menggunakan layanan ini untuk bisnis, telah menjual mobil pribadinya dan 20% member lainnya telah menunda untuk memiliki mobil pribadi.

Statistik dari para member Zipcar yakni 41% menggunakan transportasi umum lebih sering, 41% berjalan kaki lebih banyak dan 22% menggunakan sepeda lebih sering. Saat ini Zipcar masih menggunakan mobil berbahan bakar bensin, walaupun tidak menutup kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan sudah bisa menggunakan mobil listrik Tesla.

Amazon dalam pengiriman paketnya sudah mulai menggunakan drone bertenaga listrik meski masih sedikit, namun pelan tapi pasti ini hanya soal waktu saja sebelum seluruh armada pengiriman menggunakan drone. Perlahan kendaraan bertenaga bensin akan mulai ditinggalkan dan beralih sepenuhnya kepada kendaraan berbasis bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan.

Dunia manufaktur mobil pun terkena efek dari ekonomi digital. Sebuah pabrikan mobil skala kecil, Local Motors, berhasil memanfaatkan jejaring crowdsourcing yang dibangunnya dalam menciptakan mobil. Hasil fabrikasi mobilnya adalah buah karya dari komunitas para profesional dan penghobi otomotif yang mendesain mulai dari bodi, sasis, hingga mesin. Jika pada mobil biasa, bisa terdiri sampai 30.000 body parts, maka mobil rancangan Local Motors bisa diminimalisir hingga hanya 50 parts saja. Luar biasa.

Jangan lupa bahwa kepadatan lalu lintas jalan juga berpengaruh dalam menghasilkan emisi gas rumah kaca. Beberapa aplikasi seperti Google Maps dan Waze dalam hal ini mampu mencari solusi atas kepadatan lalu lintas di setiap rute. Ketika ada kemacetan di rute yang hendak dilalui, maka Waze secara otomatis mencari rute lain yang lebih singkat. Alhasil ini dapat mempersingkat waktu perjalanan dan mengurangi emisi.

Di luar Indonesia masih banyak perusahaan aplikasi berbasis sharing. Beberapa dari mereka malah namanya masih terasa asing di telinga saya. Meski begitu, tampaknya layanan yang mereka berikan cukup inovatif dan sangat memudahkan aktivitas.

Bagi para pebisnis, Cargomatic bisa menjadi solusi dalam berbagi truk untuk keperluan short haul. Dengan demikian para pengusaha bisa menjadi lebih leluasa dan mampu berhemat dalam hal pengiriman barang dalam jumlah besar.

Selain itu ada Yard Club yang menyewakan peralatan berat, Flexe aplikasi yang menyewakan gudang privat yang menganggur, Floow2 yang menyewakan peralatan kantor dan stationary. Menjamurnya sistem ekonomi berbagi ini merangsang orang untuk tidak berlebihan dalam membeli barang baru yang belum tentu setiap hari digunakan, beralih ke menggunakan dan menyewa hanya ketika ingin memakai saja. Less produce and less waste.

Namun menyangkut ekologi lingkungan dan pola konsumsi masyarakat adalah hal yang sangat kompleks. Dengan adanya tren ekonomi digital meski relatif ramah lingkungan, namun di lain sisi terjadi peningkatan penggunaan. Meningkatnya jumlah penggunaan, tentunya meningkatkan konsumsi akan energi dan menghasilkan limbah meski yang dapat dihemat juga banyak. Sampai saat ini kita sebagai umat manusia masih belum bisa sama sekali untuk tidak menghasilkan sampah.

Tentu saja, tetap dibutuhkan sebuah penelitian yang lebih komprehensif agar klaim bahwa ekonomi berbagi lebih ramah lingkungan menjadi lebih valid adanya. Namun melihat dari konsep dasar ekonomi berbagi, peer to peer, dan banyaknya sumberdaya menganggur yang di share, saya yakin postulat ekenomi berbagi yang ramah lingkungan akan bisa menjadi kenyataan. Mudah-mudahan….

Sumber:

https://www.airbnb.com/press/news/new-study-reveals-a-greener-way-to-travel-airbnb-community-shows-environmental-benefits-of-home-sharing

https://www.greenbiz.com/article/state-green-business-sharing-economy-goes-b-b

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s